Saidi? Saidi Kamaludin? Tak jauh dari sini. Dua tikungan di depan, lalu belok kanan, tanya saja di sana mana rumah Saidi si “Raja Semalam”. Semua orang yang tinggal di lingkungan itu pasti tahu.

Ungkapan “Raja Semalam” tampaknya begitu melekat pada lelaki kelahiran Desa Pemulutan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 69 tahun lampau ini. Berkat perannya sebagai raja yang kerap ia mainkan selama hampir separuh abad dalam lakon teater tradisi Abdul Muluk—lebih populer dengan sebutan Dulmuluk—lelaki tinggi-besar ini ternyata lebih dikenal oleh para tetangganya lewat sosok tokoh yang diperankannya itu daripada nama lengkapnya: Saidi Kamaludin!

Benar saja. Begitu melintas di jalanan yang tak bisa dipapasi kendaraan roda empat itu, seorang anak kecil langsung menunjuk sebuah rumah tipe 36 di Kompleks Griya Gandus; sebuah perumahan sederhana di pinggiran Kota Palembang, sekitar 25 km dari pusat kota ke arah hulu Sungai Musi. Ini rumah Saidi? “Bukan, rumah Pak ’Raja Semalam’, pemain Dulmuluk,” kata sang bocah lugu itu.

Rumah tanpa halaman itu masih seperti bentuk aslinya ketika ditempati awal 1990-an. Sebuah sepeda motor diparkir di beranda depan yang sempit, menghalangi jalan menuju pintu masuk yang siang itu terbuka lebar. Di ruang tamu cuma terlihat seperangkat kursi tamu sederhana warna merah marun yang mulai pias dan sedikit robek di beberapa bagian.

Meski sudah beberapa kali ketukan di daun pintu dan salam disuarakan, tak juga tampak bayangan penghuni rumah. Sepi. “Ketuk saja terus. Kalau siang- siang begini biasanya dia selalu ada,” kata salah seorang tetangga pemilik rumah yang kebetulan melintas.

Baru setelah ketukan sedikit diperkeras dan intonasi salam pun agak ditinggikan, dari dalam terdengar suara lelaki tua terbatuk-batuk. Lelaki yang dijuluki sang “Raja Semalam” itu pun muncul di depan pintu; hanya berkain tanpa penutup badan.

Sembari menyilakan tamunya masuk, ia segera menyambar kemeja bermotif batik yang tersangkut di tembok rumah dan mengenakannya sambil berucap, “Sejak semalam aku ni batuk- batuk terus. Belum lagi kepala agak pusing. Baru gek sore ado rencano ke dokter untuk minta obat. Kalu idak, biso-biso dak pacak maen gek malam.”

Bagai sudah akrab dengan tamunya, ia terus saja ngoceh tentang penyakit yang mulai kerap menderanya. Ia juga bercerita tentang rencana grup Abdul Muluk “Setia Kawan” yang ia pimpin akan menggelar pertunjukan malam harinya di daerah Karanganyar, masih di wilayah Kecamatan Gandus. Kendati itu adalah perjumpaan kami yang pertama, lelaki yang sudah menggeluti teater tradisi Dulmuluk sejak tahun 1948 (saat ia baru berumur 10 tahun) tersebut tak merasa perlu bertanya siapa dan untuk apa sang tamu datang mengunjunginya.

“Tapi, sampai siang ini belum ado kabar dari pemilik perangkat sound system yang biaso kami pakai untuk disewa. Belum tahu biso apo idak. Kawan-kawan yang bakal ikut naik panggung jugo belum seluruh-nyo pacak dihubungi,” kata Saidi, masih sambil terbatuk-batuk.

Tokoh acuan

Sosok Saidi Kamaludin memang sangat menonjol di antara para pemain dan penggiat teater tradisi Dulmuluk di Sumatera Selatan. Apalagi sejak 1990-an, kakaknya, Arjo Kamaludin—yang sebelumnya dikenal sebagai dedengkot Dulmuluk—tak lagi bermain sampai akhir hayatnya. Sejak itu Saidi bagai menjulang sendirian di tengah kian suramnya masa depan seni tradisi ini.

Memang ada sejumlah nama yang memiliki cukup talenta di pentas Dulmuluk. Taruhlah seperti Jonhar Saad, Anwar Arang, Sopar, dan Wak Pet. Bahkan, nama yang disebut terakhir ini malah lebih dikenal di kalangan masyarakat Palembang berkat kemampuannya memerankan tokoh Khadam (abdi raja atau pangeran; fungsinya semacam tokoh punakawan dalam dunia pewayangan) yang kocak itu.

Akan tetapi, sebagai sosok yang bisa dianggap merepresentasikan seni Dulmuluk, Saidi tetaplah tokoh acuan sekaligus panutan bagi rekan-rekannya. Dan itu bukan lantaran ia sebagai pimpinan grup bisa bebas memilih peran-peran menonjol, tetapi lebih karena totalitasnya dalam mengabdikan diri pada salah jenis tontonan rakyat ini. Apalagi hampir seluruh hidupnya memang ia leburkan bersama perjalanan panjang Dulmuluk, yang juga ikut memberinya napas kehidupan.

“Kalu lamo dikit idak maen, rasonyo tebayang-banyang. Tapi kalu lagi dapat panggilan maen Dulmuluk, yang ado cuma ladas. Apalogi kalu jadi rajo, perasaan hati ini pecak jadi rajo nian: makan nak lemak, make nak bagus. Sampai-sampai dak tau kalu beras (di rumah) habis,” tutur Saidi dalam bahasa Melayu-Palembang pasaran.

(Kata Saidi, bila agak lama tidak bermain Dulmuluk, ia merasa selalu terbayang-bayang akan peran yang kerap ia mainkan. Sebaliknya, bila mendapat tanggapan untuk bermain Dulmuluk, yang ada cuma kegembiraan. Apalagi bila sudah tampil dengan peran sebagai raja, perasaan di hatinya benar-benar seperti raja: makan ingin yang enak, pakaian ingin yang bagus. Sampai-sampai lupa kalau di rumah tidak ada beras untuk makan anak dan istri.)

Saidi memang telah mengenal Dulmuluk sejak kecil. Orangtuanya, (alm) Kamaludin, adalah generasi pertama yang mewarisi seni tradisi ini. Bersama Pasirah Nuhasan dari Desa Tebingabang, Rantau Bayur (kini wilayah ini masuk Kabupaten Banyuasin), mereka berdua berguru dan berlatih Dulmuluk pada Wan Bakar di Tangga Panjang, Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Sumber lain menyebutkan, Wan Bakar kerap menghadirkan pertunjukan Dulmuluk dalam bentuk pembacaan kisah Abdul Muluk di Tangga Takat, Kelurahan 16 Ulu.

Wan Bakar adalah pedagang keturunan Arab yang datang ke Palembang pada awal abad ke-20. Boleh dikata, dialah tokoh ’pencipta’ teater tradisi Dulmuluk meski inspirasi penciptaannya berangkat dari nukilan kisah Raja Abdul Muluk dalam teks syair Melayu klasik berjudul Syair (Sultan) Abdul Muluk.

Tidak seperti kerap dilansir berbagai media massa, yang menganggap syair ini karya Raja Ali Haji, teks-teks dalam Syair Abdul Muluk sesungguhnya karya seorang penulis perempuan bernama Saleha. Ia saudara perempuan Raja Ali Iba Raja Achmad Iba yang dipertuan muda Raja Haji Fi Sabilillah, dan ketika pertama kali teks syair itu diterbitkan (1847) diberi judul Kejayaan Kerajaan Melayu.

Saidi mengaku tahu banyak hal tentang itu. Selain dari cerita orangtuanya, ia juga banyak membaca syair-syair Abdul Muluk dari tulisan berhuruf Melayu gundul alias huruf Arab tanpa tanda-tanda baca. Hampir seluruh kisah dalam Syair Abdul Muluk, juga Syair Siti Zubaedah yang belakangan juga diadopsi sebagai materi pentas Dulmuluk, ia pahami ’di luar kepala’.

Dan, semua tokoh raja dalam cerita di kedua teks Melayu klasik itu sudah ia perankan. Mulai dari tokoh protagonis macam Sultan Abdul Hamid Syah dari Negeri Berbari hingga tokoh antagonis seperti Sultan Sahabudin dari Hindustan. Karena pentas biasanya berlangsung semalam suntuk, lekatlah julukan “Raja Semalam” untuk Saidi; sang maestro seni tradisi dari Sumsel itu. Meski saat esoknya pulang ke rumah, ternyata beras pun tak punya….

About these ads